UKRI Dorong Kedaulatan Benih Jagung Lewat Riset Terapan dan Program Intensifikasi Nasional

Nasional770 Dilihat

HukumID | Lamongan — Dekan Fakultas Pertanian Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) Pipink A. Bisma bersama jajaran PT Corresco Seeds Indonesia meninjau langsung Laboratorium Pembenihan pada Selasa, (10/2/2026) sebagai tindak lanjut implementasi Memorandum of Agreement (MoA) penguatan riset varietas jagung unggul nasional. 

Kunjungan tersebut menjadi penanda keseriusan kolaborasi kampus dan industri dalam mempercepat hilirisasi riset perbenihan serta mendukung Program Intensifikasi Jagung Kebangsaan yang telah menghasilkan panen raya seluas 37.000 hektare di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Dekan Fakultas Pertanian UKRI Pipink A. Bisma menegaskan, penguatan laboratorium pembenihan menjadi fondasi penting untuk memastikan riset kampus berdampak langsung pada produktivitas petani.

“Program Intensifikasi Jagung Kebangsaan kami bangun di atas fondasi riset dan pendekatan ilmiah yang sistematis. Kampus tidak berhenti pada produksi pengetahuan, tetapi memastikan hasil riset diterjemahkan menjadi praktik budidaya yang meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan pada akhirnya kesejahteraan petani,” ujarnya.

banner 600x600

Menurut Pipink, keberhasilan program pertanian tidak semata diukur dari peningkatan tonase produksi, tetapi juga keberlanjutan sistem budidaya, stabilitas pendapatan petani, serta kemampuan sektor pertanian beradaptasi terhadap tantangan iklim dan dinamika pasar.

Penandatanganan MOA antara Fakultas Pertanian UKRI dan Coressco

Sementara itu, Direktur PT Corresco Seeds Indonesia Febri Hendrayana menyebut UKRI sebagai mitra strategis dalam pengembangan benih unggul nasional. Ia mengungkapkan, melalui riset perbenihan, pihaknya telah menghasilkan sedikitnya 11 varietas jagung, termasuk varietas Bhayangkara yang telah diimplementasikan di sejumlah daerah.

banner 600x600

“Melalui kolaborasi ini, kami berharap lahir inovasi benih yang semakin adaptif terhadap kondisi agroekologi Indonesia dan siap diterapkan secara luas di lapangan,” katanya.

Penguatan kolaborasi riset tersebut berjalan paralel dengan implementasi Program Intensifikasi Jagung Kebangsaan yang melibatkan POLDA Jawa Timur, PT Corresco Seeds Indonesia, PT YKB Merah Putih, PT Len Railway Systems (LRS), serta Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI). Program ini mencakup pendampingan teknis berbasis riset, penggunaan benih unggul, penerapan teknologi pertanian presisi, serta penguatan tata kelola budidaya dari hulu hingga hilir.

banner 600x600

Puncak pelaksanaan program ditandai dengan Forum Monitoring dan Evaluasi (Monev) serta panen raya jagung seluas sekitar 37.000 hektare di Kabupaten Lamongan. Forum tersebut menjadi ruang evaluasi efektivitas teknologi, pengelolaan input produksi, serta dampak ekonomi yang dirasakan petani.

Wakil Rektor I UKRI Heni Haryani menegaskan bahwa kolaborasi dengan industri harus menghasilkan ekosistem riset yang berdampak nyata.

“Kerja sama ini tidak boleh berhenti pada penandatanganan MoA. Kami mendorong agar hasil penelitian memberikan manfaat konkret bagi mahasiswa, masyarakat, dan berkontribusi langsung pada penguatan ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Dari sisi akademik, Ketua Prodi Agroteknologi Denih Wahyudin menilai kemitraan ini membuka ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa melalui keterlibatan langsung dalam riset dan praktik industri. Senada, Ketua Prodi Agribisnis Tasha Annisa Awaina menambahkan bahwa kolaborasi tersebut memperkuat pemahaman rantai nilai pertanian sekaligus menumbuhkan agropreneur muda berbasis inovasi.

Panen raya di Lamongan menjadi bukti konkret sinergi antara dunia akademik, aparat negara, kelembagaan petani, dan sektor swasta dalam menjawab tantangan ketahanan pangan nasional. Melalui penguatan riset laboratorium, kemitraan industri, dan pendampingan lapangan, Fakultas Pertanian UKRI menegaskan posisinya sebagai kampus berdampak yang tidak hanya memproduksi ilmu, tetapi juga menjadi motor penggerak kedaulatan pangan berbasis inovasi, riset, dan kolaborasi nasional.

Ke depan, UKRI menargetkan replikasi model kolaborasi serupa di berbagai sentra produksi pangan nasional guna memperkuat kemandirian benih, meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani, serta memperkokoh posisi Indonesia sebagai negara berdaulat pangan.