Integrasi Pengelolaan Sampah dan Urban Farming untuk Penguatan Resiliensi Keluarga
HukumID | Bogor – 9 Agustus 2026, Keprihatinan warga terhadap keterbatasan sarana pengelolaan sampah di Cluster Linggabuana, Pakuan Regency, Kelurahan Margajaya, Bogor Barat, mendorong lahirnya gerakan pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat. Cluster Linggabuana yang dihuni 173 kepala keluarga (KK) ini mulai membangun sistem pengelolaan sampah yang dilakukan dari sumbernya melalui Program Dosen Pulang Kampung dengan tema “Integrasi Pengelolaan Sampah dan Urban Farming untuk Penguatan Resiliensi Keluarga di Kelurahan Margajaya, Bogor.” Program ini dilaksanakan oleh Tim Dosen lintas fakultas di IPB, yaitu Prof. Lailan Syaufina (Fakultas Kehutanan dan Lingkungan), Prof. Illah Sailah dan Prof Arif Sabdo (Fakultas Teknik dan Teknologi), Prof. Faroby Falatehan (Fakultas Ekonomi dan Manajemen), dan Iis Purnamawati, MSi (Sekolah Vokasi).
Program diawali dengan sosialisasi yang dibuka oleh Lurah Margajaya, Yudi M. Somiki, S.E., dan mendapat sambutan baik dari Ketua RW 03, Ir. Dharma Satyawan, M.E. Kegiatan dihadiri pengurus Posyandu, perwakilan warga dari tiga RT—masing-masing sedikitnya lima orang—serta perwakilan warga dari RW lain di dalam Cluster Linggabuana.
Persoalan yang melatarbelakangi program ini cukup nyata. Truk pengangkut sampah yang datang dua kali seminggu diprioritaskan untuk mengambil sampah dari rumah warga, sementara tim kebersihan cluster yang dibiayai melalui iuran warga bertugas menjaga kebersihan jalan dan lingkungan. Sampah hasil penyapuan didominasi daun yang berguguran dari pepohonan di kawasan permukiman. Sebelumnya, sampah tersebut antara lain dibuang ke area dekat sungai atau dibakar di lokasi yang jauh dari rumah warga.
Melalui program ini, warga diajak mengubah cara pandang terhadap sampah. Ketua Program Dosen Pulang Kampung, Prof. Dr. Lailan Syaufina, memaparkan bahwa salah satu tujuan utama program adalah memanfaatkan sampah dapur menjadi bahan yang berguna untuk mendukung media tanam dalam kegiatan urban farming. Sampah organik, khususnya sampah dapur dan sampah daun, tidak semata-mata diperlakukan sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, tetapi dipilah dan dikelola melalui proses biodegradasi sehingga dapat kembali memberikan manfaat bagi lingkungan dan keluarga.
Pada sesi utama, Prof. Dr. Arif Sabdo menjelaskan kepada warga cara memilah sampah dan tata cara membuang sampah ke lokasi yang telah disediakan di fasilitas umum (Fasum) Cluster Linggabuana. Penjelasan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab sehingga warga dapat memahami jenis sampah yang dapat dikelola melalui sistem yang telah disiapkan.

Setelah sosialisasi, peserta meninjau langsung fasilitas pengelolaan sampah di Fasum. Warga juga mempraktikkan cara membuang sampah yang sesuai ke lokasi pengomposan. Praktik langsung ini menjadi bagian penting agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi segera diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari.

Program juga memperoleh dukungan Yayasan Rekam Nusantara melalui pembangunan bak sampah permanen di Fasum Cluster Linggabuana. Selain fasilitas komunal tersebut, sejumlah warga percontohan mulai menerima tempat sampah berupa ember bertutup untuk digunakan di rumah masing-masing. Sampah organik yang terkumpul dapat dibawa ke tempat pengelolaan di Fasum, sementara warga juga dapat membuang sampah dapur setiap hari pada tempat yang telah disediakan.
Pengelolaan sampah organik selanjutnya diarahkan pada proses biodegradasi dengan memanfaatkan agen larva Black Soldier Fly (BSF). Proses penguraian berlangsung dalam sistem pengelolaan yang dirancang selama sekitar dua bulan, sehingga bahan organik dapat terbiodegradasi dan menghasilkan material yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan urban farming, seperti penanaman cabai, tomat, dan berbagai sayuran lain di rumah warga.
Ke depan, keberlanjutan program diharapkan tidak berhenti ketika rangkaian Dosen Pulang Kampung selesai. Tim Posyandu Linggabuana diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak pembinaan warga secara rutin, bersama pengurus lingkungan dan masyarakat. Semangat yang dibangun adalah mengelola sampah sedekat mungkin dari sumbernya, mengurangi beban pengangkutan, mencegah pembuangan ke lingkungan, sekaligus mengubah sampah organik menjadi sumber daya untuk lingkungan yang lebih produktif.
Program ini menunjukkan bahwa persoalan sampah di lingkungan permukiman dapat mulai diatasi dari langkah sederhana: memilah dari rumah, mengelola bersama melalui proses biodegradasi berbasis larva BSF, dan memanfaatkan hasilnya. Dari sampah menjadi sumber daya, dari lingkungan yang bersih menjadi lingkungan yang produktif, dan dari gerakan warga menjadi fondasi resiliensi keluarga.









