Agung Iriantoro: Universitas Pancasila Tidak Pernah Memperumit Mahasiswa, Tapi Menjaga Kualitas dan Integritas Hukum!!!

Hukum368 Dilihat

HukumID | Jakarta– Dosen Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Pancasila, Agung Irianto, menegaskan bahwa kampus tempatnya mengajar tidak pernah berniat mempersulit mahasiswa, melainkan berkomitmen menjaga kualitas lulusan agar siap menghadapi dunia profesional hukum yang semakin kompleks.

“Kampus ini tidak punya niat mempersulit mahasiswa. Tapi kami punya kewajiban moral untuk memberikan keilmuan yang utuh dan benar-benar dibutuhkan masyarakat. Jangan sampai mahasiswa hanya mendapat separuh ilmu, lalu menafsirkan sendiri,” tegas Agung dalam wawancara eksklusif di Kampus Universitas Pancasila, Jakarta.

Ia menjelaskan, para dosen di Universitas Pancasila memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk memastikan mahasiswa memperoleh pemahaman yang utuh.

“Kalau memberi ilmu itu jangan setengah, apalagi seperempat. Harus utuh, dari pengantar sampai kesimpulan.Dengan begitu, mahasiswa siap menghadapi ujian akademik maupun dunia kerja,” ujarnya.

Sebagai pengajar di berbagai jenjang, dari S1 hingga S3, termasuk di Program Magister Kenotariatan (MKn), Agung menekankan pentingnya membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis yang relevan.

“Mahasiswa harus tahu siapa dirinya. Kalau notaris, berarti dia pejabat publik yang memberi pelayanan hukum dan harus menjamin kepastian hukum. Jangan sampai akta autentik yang dibuatnya malah tidak berkekuatan hukum,” katanya.

Menurutnya, kampus menyediakan dosen dan kurikulum yang berorientasi kebutuhan mahasiswa lintas profesi, mulai dari advokat, jaksa, notaris, hingga pejabat publik.

“Di sini ada profesor hukum tata negara, pidana, perdata, bisnis semuanya kita siapkan agar mahasiswa mendapat bekal yang komprehensif,” jelasnya.

Agung juga menegaskan pentingnya integritas dan kehati-hatian bagi para calon notaris. Ia mengingatkan, profesi notaris adalah jabatan kepercayaan yang menjadi perpanjangan tangan negara.

“Notaris wajib berhati-hati, seksama, mandiri, dan tidak berpihak. Kalau produk akta yang dibuat salah, tidak ada perlindungan hukum. Notaris harus siap menanggung konsekuensinya,” ujarnya tegas.

Selain menekankan profesionalitas, Agung juga menyinggung pentingnya karakter dan mental yang sehat bagi mahasiswa. Dengan gaya santainya, ia berpesan,

“Kalau mau ujian, tidurlah yang cukup. Jangan makan indomie malam-malam, nanti asam lambung naik. Belajar boleh lembur, tapi malam sebelum ujian harus tenang, biar besoknya fresh.”

Agung juga membuka diri bagi mahasiswa yang ingin berdiskusi atau berkonsultasi langsung.

“Silakan telepon kalau mau diskusi. Kalau WA, kadang saya baca dua hari kemudian, karena grupnya banyak,” candanya.

Ia berharap mahasiswa Universitas Pancasila, terutama calon notaris, terus menanamkan nilai kehati-hatian, profesionalitas, dan kejujuran dalam praktik hukum.

“Selama kita paham norma dan regulasi, serta bekerja dengan integritas, masyarakat akan terus percaya pada profesi hukum, termasuk notaris,” pungkasnya.