HukumID | Jakarta – Dunia advokat kerap identik dengan meja sidang, berkas perkara, dan tekanan pekerjaan. Namun, bagi Agus Susanto, advokat yang juga dikenal sebagai pendiri sejumlah Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di Jakarta Barat, dunia di luar ruang sidang justru penuh dengan energi, adrenalin, dan semangat bela diri.
Dalam program Sisi Lain, Agus menceritakan hobinya yang bisa dibilang unik dan ekstrem, latihan berbagai seni bela diri hingga memecahkan bata dengan tangan dan kaki.
“Awalnya saya latihan Brazilian Jiu Jitsu (BJJ) waktu umur 35 atau 36 tahun. Lalu lanjut boxing, Muay Thai, karate, judo, aikido, taekwondo, sampai Krav Maga,” tuturnya sambil tertawa ringan.
Menurut Agus, hobi bela diri bukan hanya sekadar olahraga, tapi juga latihan mental dan kewaspadaan.
“Kalau di jalan atau lapangan, kita jadi lebih siap. Bahkan dalam pekerjaan sebagai lawyer pun berguna, apalagi saat eksekusi di lapangan. Setidaknya kita bisa melindungi diri,” ujarnya.
Meski telah lama menjadi advokat, Agus mengaku baru serius menekuni bela diri setelah berkarier di dunia hukum.
“Dulu sempat belajar silat waktu SMP, tapi nggak selesai karena kondisi ekonomi. Baru bisa serius latihan setelah kerja,” kata Ketua Koperasi Merah Putih ini.
Hobi bela diri Agus bukan sekadar latihan rutin. Ia pernah mengikuti berbagai turnamen, bahkan di luar negeri. Salah satunya di Tokyo, Jepang, dalam ajang Brazilian Jiu Jitsu Federation.
“Waktu itu lawan saya orang Korea. Saya menang,” kenangnya.
Agus juga pernah ikut pertandingan Mixed Martial Arts (MMA) dan judo di dalam maupun luar negeri.
“Saya pernah tanding di tiga kelas berbeda No Gi, With Gi, dan Master di turnamen IBJJF, level tertinggi di dunia. Lawannya bule-bule tinggi besar, tapi saya tetap lawan. Menang kalah urusan belakangan, yang penting berani dulu,” ujarnya bangga.
Bahkan, dalam salah satu pertandingan MMA, Agus berhasil mengalahkan lawannya hanya dalam 13 detik.
“Waktu itu sempat diledek duluan pakai bahasa Inggris. Ya sudah, saya serius latihan, berhenti ngerokok, dan akhirnya menang cepat,” katanya dengan senyum lebar.
Di balik kesibukannya sebagai advokat, kurator, dan penggerak koperasi, Agus tetap menjaga rutinitas olahraga.
“Dulu sebelum sibuk, saya latihan jam 4 subuh. Sekarang lebih fleksibel, tergantung jadwal kerja. Kalau sempat sore, ya sore. Kadang latihan di rumah, karena sudah punya gym sendiri,” ujarnya.
Bagi Agus, olahraga bukan hanya rutinitas fisik, tetapi juga cara menjaga keseimbangan hidup. “Selain buat melatih tubuh, olahraga juga ngilangin stres. Biar pikiran jernih dan tetap fokus kerja,” katanya.
Di akhir wawancara, Agus berpesan kepada anak muda dan para advokat muda agar tidak mengabaikan kesehatan.
“Kesehatan itu mahal. Jangan nunggu sakit baru olahraga. Nggak harus yang berat jogging, stretching, atau latihan ringan aja udah cukup. Yang penting gerak dulu. Jangan mager,” ujarnya menegaskan.
Meski dikenal sibuk dan memiliki banyak tanggung jawab, Agus tetap tampil santai dan penuh semangat.
“Yang penting, kita tahu porsi tubuh kita. Kalau fit, latihan. Kalau nggak, istirahat. Badan harus tetap digerakkan supaya nggak kaku,” tutupnya.
“Sisi Lain”: Mengenal Advokat dari Perspektif Berbeda
Melalui program Sisi Lain, publik diajak melihat sosok advokat bukan hanya dari sisi profesinya, tapi juga kepribadian dan aktivitas di luar pengadilan. Kisah Agus Susanto menjadi bukti bahwa advokat pun bisa menyeimbangkan antara dedikasi profesional dan hobi ekstrem tanpa kehilangan senyum dan semangat membantu sesama.









