HukumID | Jakarta — Menjelang pemilihan Ketua Umum Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI), pasangan calon Anthony Prawira, Ariyo Priyambodo, dan Riyo Hanggoro Prasetyo atau dikenal dengan “3P” memaparkan visi dan program kerja yang mereka usung, dengan semangat kepemimpinan rasional, kolektif, dan inklusif demi memperkuat organisasi dan melindungi anggotanya.
Dalam podcast HukumID, Anthony Prawira menegaskan bahwa pencalonannya bersama Ariyo dan Riyo dilandasi oleh komitmen untuk menjadikan AKPI sebagai rumah yang memberikan perlindungan nyata bagi kurator. Ia menyebutkan bahwa profesi kurator kerap menghadapi tekanan dan kompleksitas hukum yang tumpang tindih, sehingga membutuhkan organisasi yang berpihak dan hadir secara konkret.
Pasangan 3P mengusung tiga pilar utama, yaitu Prime, Professional, dan Protection. Prime mencerminkan upaya menjadikan AKPI sebagai organisasi unggul dan visioner. Professional menekankan pentingnya peningkatan kapasitas dan integritas anggota dalam menjalankan tugas profesi. Sementara itu, Protection menjadi prioritas utama, dengan tujuan memberikan perlindungan hukum dan advokasi yang efektif terhadap anggota yang menghadapi potensi kriminalisasi atau tekanan eksternal.
“Organisasi profesi seperti AKPI harus menjadi tempat berlindung dari hambatan kerja yang makin kompleks. Perlindungan bukan hanya jargon, tapi harus nyata. Kurator bekerja dalam situasi hukum yang sering tumpang tindih. Maka organisasi harus hadir ketika anggotanya tertekan,” ujar Anthony, Senin (21/7/2025)
Sebagai bagian dari program konkret, Anthony mengusulkan pembentukan anggaran perlindungan hukum sebesar 25 persen dari total kas organisasi. Anggaran ini akan dikelola secara ketat, transparan, dan hanya dapat digunakan melalui mekanisme organisasi yang sah. Ia menegaskan bahwa langkah ini penting agar anggota merasa aman dan terlindungi secara kelembagaan ketika menghadapi persoalan hukum.
“Kita ingin memastikan bahwa ketika anggota menghadapi masalah hukum, organisasi siap hadir dan bertindak. Tapi penggunaannya tentu tidak sewenang-wenang. Harus melalui bidang yang kompeten,” jelasnya.
Calon Wakil Ketua Umum, Riyo, menyoroti pentingnya menjembatani komunikasi lintas generasi di tubuh AKPI. Menurutnya, membangun ruang-ruang interaksi informal seperti coffee talk atau afternoon tea dapat memperkuat hubungan antara kurator senior dan junior, serta mendorong transfer pengetahuan secara lebih merata dan alami. Ia meyakini bahwa komunikasi yang cair akan memperkuat kepercayaan dan kebersamaan dalam organisasi.
“Kalau komunikasi cair, maka kepercayaan tumbuh. Senior merasa dihargai, junior merasa dibimbing. Itu penting untuk menjaga keberlanjutan organisasi,” ujarnya.
Sementara itu, Ariyo sebagai calon Sekretaris Jenderal menyampaikan fokusnya pada penguatan kelembagaan dan pentingnya mendorong penyusunan kerangka hukum untuk profesi kurator. Ia menyatakan bahwa saat ini profesi kurator belum memiliki dasar hukum yang memadai, sehingga diperlukan upaya sistematis untuk memperjuangkan pengakuan formal di tingkat nasional.
“Kurator adalah profesi strategis yang belum punya undang-undang sendiri. Kita harus mulai mendorong ke arah sana,” kata Ariyo. Ia juga menyampaikan bahwa program-program kerja TRIPI akan dijalankan secara paralel dan terstruktur tanpa menunggu satu bidang lebih dahulu.
Lebih lanjut, Ariyo menyebut 3P juga berkomitmen memperluas akses organisasi ke seluruh Indonesia dengan mendirikan kantor wilayah AKPI di lima kota strategis: Medan, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Jakarta. Kantor wilayah ini akan menjadi pusat layanan administratif dan edukatif bagi para kurator di daerah. Mereka berjanji akan mensubsidi pembentukan kantor wilayah tersebut pada tahun pertama, dengan dana yang dialokasikan secara tertib dan melalui persetujuan Rapat Anggota Tahunan (RAT).
“Kita akan bantu dari awal. Tahun pertama, kami akan subsidi pembentukan kantor wilayah ini. Anggarannya akan kita alokasikan secara tertib, dan tentu saja dengan persetujuan RAT,” jelasnya.
Selain itu, 3P mengusulkan pembentukan divisi khusus yang akan membantu proses perpanjangan izin kurator, terutama bagi anggota di daerah yang sering mengalami kesulitan akses terhadap informasi dan prosedur. Divisi ini diharapkan menjadi pusat asistensi yang mudah diakses dan responsif terhadap kebutuhan anggota.
“Kadang ada rasa sungkan, atau bahkan ketidaktahuan. Kami ingin itu hilang. Kalau ada divisi khusus, maka anggota bisa langsung bertanya dan dibantu tanpa rasa ragu,” tambahnya.
Subsidi, Olahraga Hingga Hati
Terkait tingginya biaya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk perpanjangan izin, 3P menyatakan siap melakukan negosiasi dengan pemerintah. Namun jika tidak berhasil, mereka telah menyiapkan opsi subsidi hingga 50 persen dari nilai PNBP pada tahun kedua atau ketiga masa kepengurusan. Antoni menegaskan bahwa kebijakan ini tidak bersifat populis, melainkan upaya realistis untuk meringankan beban anggota tanpa mengorbankan keberlanjutan keuangan organisasi.
“PNBP sekarang bisa sampai Rp10 juta. Itu berat. Kita akan coba negosiasi. Tapi kalau mentok, kami anggarkan untuk bantu anggota,” ujar Anthony.
Dalam menjawab isu tentang kegiatan non-formal seperti olahraga, 3P menilai kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan sarana memperkuat solidaritas, membangun jaringan profesional, dan menjaga kesehatan mental anggota. Mereka meyakini bahwa kebersamaan yang terbangun melalui aktivitas informal dapat mempererat hubungan dan mengurangi gesekan internal dalam profesi yang penuh tekanan.
“Kalau kita kumpul di lapangan, kita lebih saling mengenal. Itu menguatkan jaringan profesional dan rasa memiliki. Jangan remehkan kekuatan kumpul bareng,” ujarnya.
Pasangan ini juga menekankan bahwa semua program yang mereka tawarkan telah dikalkulasi dengan matang dan berdasarkan pertimbangan anggaran yang realistis. Mereka menolak janji-janji kampanye yang terlalu manis dan tidak rasional. Menurut Anthony, organisasi membutuhkan pemimpin yang tidak hanya punya niat baik, tapi juga kemampuan teknokratis dalam merancang dan mengeksekusi program yang berkelanjutan.
“Kita tidak bisa janji yang terlalu manis. Kita bukan berjualan mimpi. Organisasi ini butuh pemasukan, pengelolaan, dan akuntabilitas. Uang anggota harus dikelola untuk manfaat anggota, bukan dibakar untuk pencitraan,” ujarnya lagi.
Menjelang RAT yang tinggal sebulan lagi, 3P menyerukan agar seluruh anggota menjaga suasana kontestasi yang sehat dan menjauhi kampanye negatif. Mereka menegaskan bahwa pemilihan Ketua Umum bukanlah ajang untuk saling menjatuhkan, melainkan momen kedewasaan dalam berdemokrasi, bahwa siapapun yang terpilih, seluruh pihak harus tetap bersatu dan menjaga persahabatan antaranggota.
“Kompetisi ini bukan untuk saling menjatuhkan. Kami percaya semua paslon ingin memberi yang terbaik. Tapi marilah kita ingat tujuan awal: membangun AKPI. Kita harus siap menerima hasil pemilihan apapun itu. Tapi tidak ingin proses ini memecah belah kita. Kita semua teman, setelah pemilihan harus tetap Bersatu,” seru 3P.
“Pilihlah dengan hati, dan hati-hati. Organisasi ini rumah kita. Pilihlah pemimpin yang benar-benar mengerti arah, punya rekam jejak, dan integritas. Karena kalau tidak, janji-janji itu tidak akan bisa dijalankan,” pungkas 3P.









