HukumID | Banggai – KNPI Banggai seperti kapal yang lama terombang-ambing di tengah laut tenang. Bukan karena mesin mati, tetapi karena nahkodanya seolah sengaja membiarkan layar terkulai. Musyawarah Daerah (Musda) yang seharusnya menjadi momentum regenerasi justru tertunda. Membuat organisasi ini seperti rumah tua yang hanya dijaga papan namanya.
Kini, gelombang mulai mengalun. Dari bisik-bisik ruang kopi, nama Hendro Purnomo mulai disebut-sebut sebagai calon nakhoda baru. Hendro bukan wajah baru. Ia mengawali perjalanannya sebagai Pengurus PC IMM Banggai (2012–2013), lalu melangkah ke level provinsi di PD IMM Sulawesi Tengah (2017–2019). Di bangku kampus, ia menjabat Sekjen BEM Universitas Muhammadiyah Luwuk (2012–2013), dan saat ini masih memegang posisi Sekretaris PC TIDAR Banggai (2024–sekarang).
“Saya siap mencalonkan diri sebagai calon ketua KNPI Banggai, biar organisasi ini bangkit dari kebisuan,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (16/8/2025).
Rekam jejak itu terdengar impresif di atas kertas. Tetapi sejarah KNPI Banggai mengajarkan bahwa pengalaman panjang tidak otomatis menjadi jaminan perubahan. Banyak mantan pengurus datang dengan semangat perubahan, lalu pelan-pelan larut dalam kubangan kompromi dan transaksi politik yang tak kasat mata.
Sebagian pemuda menganggap KNPI seperti “lapangan kosong yang kini sedang dibersihkan untuk turnamen besar. Masalahnya, siapa yang bermain, siapa yang menonton, dan siapa yang mengatur skor?”
Musda KNPI Banggai kali ini bisa menjadi babak baru, atau sekadar bab berikutnya dari cerita lama. Para pemuda menunggu, dengan mata yang sayup namun tetap penasaran.









