Pemilihan Ketum AKPI Memanas, Pasangan “Berani” Usung Transparansi, dan Perlindungan Anggota

Organisasi863 Dilihat

HukumID | Jakarta — Pemilihan Ketua Umum Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI) tinggal menghitung hari. Suasana pemilihan semakin dinamis dengan munculnya empat kandidat resmi yang bersaing, termasuk pasangan Nien Rafles Siregar dan Andreas Nahot Silitonga yang mengusung tagline “Berani” atau singkatan dari Bersama Rafles Nahot untuk AKPI.

Dalam perbincangan santai bersama HukumID, Sekjen AKPI sekaligus calon ketua umum, Rafles Siregar, menegaskan bahwa “Berani” bukan sekadar slogan. Ia dan Nahot membawa visi untuk memperkuat profesionalisme, menjaga integritas, menegakkan etika profesi, sekaligus memperjuangkan perlindungan hukum bagi anggota yang kerap menghadapi tekanan hingga kriminalisasi di lapangan.

“Kita ingin AKPI tetap fokus pada nilai integritas. Di mana ada kewenangan besar, di situ ada moral hazard. Ini yang harus diantisipasi organisasi. Untuk itu, tim Berani berkomitmen menyempurnakan sistem bantuan hukum dengan protokol yang lebih sederhana dan responsif bagi anggota,” ujar Rafles

Tudingan bahwa AKPI eksklusif dan hanya diisi “orang itu-itu saja” pun dibantahnya. Rafles menegaskan bahwa pengurus saat ini diisi oleh beragam latar belakang dan blok dukungan. Ia juga mengklaim bahwa tata kelola organisasi selama ini berjalan transparan, dengan laporan keuangan yang diaudit akuntan publik dan dipertanggungjawabkan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT).

“Kalau LPJ tidak ada bill-nya, itu pasti dikejar sampai mendarah,” tegasnya.

Pasangan Berani juga menyoroti pentingnya memperkuat partisipasi anggota di daerah. Menjawab kritik soal perhatian pusat terhadap wilayah, Rafles mencontohkan kegiatan di Makassar yang hanya memiliki empat anggota tapi sukses menggelar seminar nasional, dinner di atas kapal, dan fun run 5K.

“Kita tidak ingin organisasi ini top-down. Wilayah tahu kebutuhan mereka apa, kita fasilitasi,” katanya.

Rafles juga menegaskan salah satu fokus utama “Berani” adalah penguatan perlindungan hukum bagi anggota kurator. Ia berkomitmen memperbaiki mekanisme bantuan hukum dengan SOP yang lebih sederhana dan responsif.

“Kalau ada kurator tersandung perkara, AKPI harus hadir. Bahkan kami siapkan semacam P3K hukum di tiap wilayah,” jelasnya.

Menyinggung pendidikan lanjutan gratis yang notabene gagasan kandidat lain, Rafles menolak gagasan pendidikan berkelanjutan gratis karena bisa mengganggu keberlanjutan organisasi.

“Pendidikan reguler adalah satu-satunya sumber pemasukan utama AKPI. Kalau digratiskan semua, organisasi bisa terancam lumpuh. Yang penting bagaimana kita mengelola keuangan dengan baik agar tetap berkesinambungan,” jelasnya.

Di level internasional, pasangan Berani juga berkomitmen meneruskan eksistensi AKPI. Rafles menyebut AKPI telah menjadi delegasi Indonesia dalam forum PBB dan pendiri RRIOF (Regional Restructuring and Insolvency Organization Forum), forum insolvency regional bersama sembilan negara Asia Pasifik.

“Mudah-mudahan tahun depan Indonesia bisa jadi tuan rumah RRIOF,” harapnya.

Ketika ditanya motivasi maju sebagai ketua umum, Rafles menyatakan dirinya dan Andreas Nahot ingin memberi kembali kepada AKPI yang telah membesarkan mereka.

“Kami komitmen, tulus, ingin melayani. Bukan sekadar buat program, tapi bisa mengeksekusi,” tegasnya.

Rafles juga kembali menegaskan dinamika pemilihan adalah siklus tiga tahunan yang wajar di AKPI. Meski suhu politik internal terasa panas, Rafles memastikan hubungan antar kandidat tetap cair.

“Di lapangan golf atau saat pekerjaan tetap akrab kok,” ujar Rafles santai.

Ia juga memastikan bahwa usai pemilihan, mereka akan menjadi pengurus untuk semua anggota, bukan hanya pendukung mereka.

“Tim Berani hanya sampai di pemilihan. Setelah itu kami milik semua anggota AKPI,” pungkas Rafles.

Dalam bursa pemilihan kali ini, pasangan Berani akan berhadapan dengan tiga kandidat lainnya yakni pasangan 3P (Antoni Prawira, Aryo Priambodo, Rio Prasetyo), JRE (Jimmy Resha, Edo), dan MVP (Martin Vardy).