HukumID | Jakarta – Asosiasi Profesi Konsultan Hukum Bisnis Indonesia (APKHBI) merayakan anniversary ke-7 dengan menggelar kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri para pengurus serta anggota organisasi di bilangan Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2026).
Ketua Umum APKHBI, Andrew Betlehn, mengatakan bahwa perjalanan organisasi selama tujuh tahun merupakan proses panjang yang penuh tantangan, terutama pada masa awal berdiri yang bertepatan dengan pandemi COVID-19. Meski demikian, ia bersyukur APKHBI mampu bertahan dan berkembang hingga kini.

Menurutnya, APKHBI didirikan pada tahun 2019 dengan semangat membangun wadah kolaborasi bagi para profesional hukum dan sektor terkait. Dalam tiga tahun pertama, organisasi menghadapi situasi yang tidak mudah karena pandemi yang membatasi aktivitas organisasi. Namun, dukungan para pengurus dan anggota membuat APKHBI terus bertumbuh.
“Ketika pertama kali berdiri, jumlah anggota hanya sekitar 40 orang. Hari ini pengurusnya sudah lebih dari 170 orang. Bagi saya, yang paling membahagiakan adalah APKHBI bisa terus memberikan manfaat secara nyata,” ujar Andrew.
Lebih lanjut, Ia menyebut dalam rangkaian kegiatan organisasi, APKHBI tidak hanya fokus pada pengembangan profesi, tetapi juga menjalankan kegiatan sosial, seperti pemberian santunan kepada anak yatim sebagai bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat.
Andrew menambahkan bahwa salah satu tujuan utama organisasi adalah menciptakan ruang kolaborasi bagi para profesional hukum agar dapat saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.
“Harapan saya sejak dulu sederhana. Anggota APKHBI harus bisa bertumbuh. Dari lawyer kecil menjadi menengah, dari menengah menjadi besar. Bukan karena organisasi memberi pekerjaan atau uang, tetapi karena mereka saling berbagi pengalaman dan memperkuat kapasitas profesional,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal yang juga merupakan Ketua Steering Committee (SC) acara, Sheila Thomasyadi, menjelaskan bahwa perayaan anniversary ke-7 ini dipersiapkan dalam waktu yang relatif singkat, kurang dari dua minggu. Meski demikian, berkat kerja sama tim organizing committee (OC), acara tetap dapat terlaksana dengan baik.
Ia mengakui bahwa tantangan utama dalam penyelenggaraan kegiatan adalah keterbatasan waktu dan padatnya agenda pada bulan Ramadan. Namun antusiasme para anggota membuat kegiatan tetap berjalan lancar.
“Bulan puasa itu acaranya padat sekali dan banyak teman-teman yang juga terhambat kemacetan. Tapi kami melihat bahwa anggota APKHBI menganggap organisasi ini seperti rumah, sehingga mereka rindu untuk berkumpul,” kata Sheila.
Menurut Sheila, salah satu keunikan APKHBI adalah keberagaman latar belakang profesi para anggotanya. Organisasi ini tidak hanya diisi oleh advokat, tetapi juga konsultan hukum, praktisi pajak, hingga kalangan pengusaha.
“Biasanya orang dengan latar belakang yang berbeda itu sulit untuk terhubung. Tapi di APKHBI justru bisa saling menyambung dan berkolaborasi. Itu yang membuat organisasi ini terasa seperti keluarga,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa APKHBI tidak hanya memberi manfaat secara profesional, tetapi juga membantu pengembangan pribadi para anggotanya.
“Organisasi ini membangun kita bukan hanya secara profesional, tapi juga secara personal. Dari yang awalnya takut berbicara, sekarang bisa tampil dan berkontribusi,” tambahnya.
Ke depan, Andrew berharap APKHBI dapat terus berkembang menjadi wadah yang memperkuat integritas dan idealisme para profesional hukum di Indonesia.
Baginya, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan dan integritas.
“Bagi saya, APKHBI adalah rumah. Orang-orang di dalamnya adalah keluarga. Ketika kita membangun mereka menjadi lebih baik, maka bangsa ini juga akan menjadi lebih baik,” tuturnya.








